nyoba-nyoba bikin fanfic ... semoga aja banyak yang suka ... cuma sekedar just for fun XD
tapi kalo ada KOMENTAR, KRITIK, SARAN, leave your comment here ^^
tapi kalo ada KOMENTAR, KRITIK, SARAN, leave your comment here ^^
SELAMAT MEMBACA ~
Chapter 1: Read What?
Kicau burung terdengar merdu saat mentari menjelang menyinari seluruh bumi. Katsunoki Ryoutaro, anak yang tinggal di tengah kota Ragoonan yg sederhana tapi modern ini, hari ini masuk Regatora Gakuen setelah ia menghabiskan liburannya selama 2 minggu. Kata “REGATORA” diambil dari kata “Legatura” yang berarti ‘sambung sampai not selanjutnya’ dalam ilmu musik. Sesuai dengan namanya, sekolah ini adalah sekolah musik yang mana kelasnya terbagi menjadi 2, kelas Moderato dan Andante. Perbedaan antara kedua kelas tersebut ialah
pada sisitem pengajarannya. Pada kelas Moderato ini lebih dominan pada keceriaan musikalnya, seperti menghafal dengan bernyanyi dan sebagainya. Lain halnya dengan Andante yang lebih dominan pada materi umum. Ryo-kun adalah murid yang masuk dalam kelas Moderato.
Kriiiinnnggg, Kriiiinnnggg, Kriiiinnnggg jam beker Ryo menunjukkan pukul 06.00.
“Apa-apaan ini? Sekolahku kan masuk jam 08.00 pagi? Kenapa ini bunyi-nya sekarang?! Ini kan terlalu pagi!” gerutu-nya sesaat setelah ia melihat jam beiker-nya.
“Bibiiiiiii!!!!!!” teriaknya sesampainya di depan pintu kamarnya. Sejenak ia lupa bahwa…
“Astaga, pintunya kan belum aku buka… mana bisa bibi mendengar aku teriak!” katanya dalam hati
Brak, Brak, Brak, “Non!!!, eh salah. Deeennnn!!!!” panggil bibi-san dari luar kamar Ryo.
Ckiiiiiitttt…..
“Apa bi-…” sebelum Ryo-kun menjawab seluruhnya, bibi-san masih tetap berteriak walaupun pintunya sudah dibuka.
“deeennnn!!!!” teriaknya tanpa sadar kalau pintu kamar Ryo sudah di buka.
“aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!! Apa sih bi-san? Ngga usah teriak bisa kan? Udah gitu panggil aku den lagi! Memangnya namaku ini Dendeng?!” teriaknya balik sambil memarahi bibi-san
“m-maaf Ryo-kun, lagi pula kan tadi Ryo sendiri juga teriak dari kamarnya Ryo-kun?” Tanya bibi-san curiga sambil menatap Ryo-kun dengan tatapan yang dingin.
“hah? Kok bibi-san bisa tau?” katanya dalam hati “ng… hehe iya bi-san”
“Dah, sekerang liat noh! Udah jam berapa ini? Jam 07.45! kan kamu masuk jam 08.00? sudah mandi sana! Nanti kamu telat, lagi!” Omel bibi-san kepada Ryo-kun.
Bibi-san, yg bernama lengkap Kusuma Youbi dan sering dipanggil Bibi ini memang sangat hobi marah-marah dengan Ryo-kun. Mereka berdua ini sudah seperti kakak adik yang hampir tidak pernah akur. Yaa, walapun mereka kadang akur. Jika Bibi-san salah selalu saja ia melontarkan kesalahannya kepada orang yang menyalahkannya. Tak heran jika ia marah-marah kepada Ryo-kun karena Ryo bangun kesiangan padahal bi-san sendiri juga bangun kesiangan walaupun tidak disalahkan oleh Ryo-kun.
“Apa?! Sudah jam segini? Kok Bi-san tidak membangunkan aku sih?! Kan aku juga nggak tau kalo sudah jam segini! Lagipula jamku ini lupa aku set semalam!” Omel balik Ryo-kun kepada Bi-san
“Udah mandiiii!!!” perintah Bi-san mengalihkan pembicaraan karena kesal.
“Iya-iya!, Bawel” jawabnya dalam hati sambil meninggalkan Bi-san.
“Eiiiittt! Itu dapur! Emangnya mau mandi pake minyak tanah? Hadoh, haha. Kamar mandi di sana!” kata Bibi-san sambil menunjuk ke arah kamar mandi dengan senyuman yg manis.
“Ternyata orang yang suka marah-marah seperti bi-san ini bisa senyum juga ya? Hehe” kata penulis.
“Wah iya, aku lupa” jawab Ryo-kun.
5 menit setelah mandi***^^^***
“Ryo!! Ayo sarapan dulu, nak!” teriak Bibi-san dari ruang makan
“Iya-iya!” jawab Ryo-kun, dan tak lama kemudian… “Aku berangkat!”
“lho kok cepet banget?!” Tanya Bibi-san heran dalam hati sebelum ia mengetahui bahwa roti yang dipengangya tadi menghilang dari tangannya. “Hei! Di mana rotiku?! Ryo-kuuuunnnn!!!!” teriaknya kesal.
Ryo-kun berlari sangat kencang, sangking kencangnya di lupa bahwa sekolahnya sudah terlewat jauh dari rumahnya. Sebenarnya Rumah Ryo dengan Sekolah Regatora tidak jauh, bila dihitung dengan langkah kira-kira jaraknya hanya 100 meter dari rumahnya. Cuma entah, mungkin karena takut terlambat ia berlari.
Setelah ia sampai di sekolahnya, ternyata pas sekali ia mengijakkan kaki di sekolahnya langsung terdengar bel tanda masuk berbunyi, “Teng, teng, teng” beruntung ia tidak terlambat, tetapi hamper terlambat.
Karena ini adalah hari pertama ia masuk kembali, ada pembagian kelas Moderato. Ryo-kun masuk ke dalam ruang kelas M.XA yang berarti Moderato kelas 10-A. namun Ryo tidak menyadari kalau kelasnya itu sudah tepat berada di depannya.
“Di mana kelasku?” tanyanya dalam hati.
“Hei Ryo-kun!” Teriak Hika dari belakang Ryo.
“Ah! Kau ini Hika, menngagetkanku saja!”
“kok belum masuk?” tanya Hika
“Iya nih, kelasku di mana ya? Kamu tau gak Hika?” Tanya balik Ryo kebingungan.
“hmmm itu! Ryo sekelas sama Hika! Memang tulisan sebesar itu nggak kelihatan ya Ryo?” jawab Hika polos.
“Ya ampun! Kok tulisan sebesar itu bisa aku tidak melihatnya ya?” sambung Ryo kebingungan.
“sudahlah! Ayo masuk!” ajak Hika.
Setelah masuk, Ryo merasa heran dengan cara berpakaian Hika. Ryo merasa saat memasuki ruang kelas karena Hika tetap menggunakan Jaket berwarna putihnya saat sudah masuk ke dalam kelas yg memang di sana terasa agak pengap.
Hika, yang bernama lengkap Hikate Vargance ini memang sering mengenakan jaket putih polos dengan saku dimanapun ia berada. Hika memiliki sifat yang ceria, agak aneh, agak pendiam, dan kadang-kadang polos seperti orang bodoh suka linglung yang menyebabkan korban. Mungkin disebut agak aneh karena salah satu hobinya adalah menyusun batu-batu hingga tinggi saat depresi, dan menyanyi saat kelas sedang kosong. Tapi hebatnya, ia dapat memainkan alat musik berupa harmonica dan piano. Tak heran jika ia sangat hobi bermain harmonica.
“ngg.. Hika! Hika!, banyak murid baru ya di sini?” Tanya Ryo sama Hika.
“nggak kok! Kamu aja yang lupa sama muka-muka ini! Mereka mungkin ada perubahan selama liburan jadi rada-rada berubah kayak power ranger gitu, haha! Ups!” jawab Hika dengan ceria
“haha Hika bisa saja. Oh iya ya?! Ini kan masih teman-temanku yang waktu itu ya!” kata Ryo dengan wajah yang menunjukkan rasa terkejutnya karena ia baru sadar bahwa itu semua masih teman-temannya yang dulu.
“waktu kapan?” Tanya Hika bermaksud meledek.
“waktu… ah lupakan! Dah aku mau duduk aja!” jawab Ryo agak kesal.
“hmm, yasudah” kata Hika pasrah karena gagal menerima jawaban dari Ryo.
2 jam setelah pelajaran***^^^***
Teng, Teng, Teng
Bel jam istirahat pun berbunyi. Katsunoki Ryoutaro, Aozaki Kensuke, Erumo Kurogaki, Hikate Vargance, dan Yuu Hazelie menghabiskan waktu istirahatnya di cafeteria sekolah. Mereka selalu mengobrol apa saja yag bisa mereka jadikan sebagai bahan omongan (bukan gosip lho ya!). Ryo masih heran dengan sifat teman-temannya yang asing di mata Ryo. Aozaki-san yang biasanya suka membawa I-pod yg selalu setia menggantung di lehernya kemanapun ia pergi, kini tidak membawanya sama sekali. Yuu-chan yg biasanya selalu mengunyah permen karet saat di cafeteria, sekarang tidak lagi mengunyahnya bahkan ia tidak terlihat membeli atau membawa permen karet satu pun. Erumo-san yang biasanya selelu ceria dan selalu mempunyai cara mudah untuk menyelesaikan masalah kini ia terlihat seperti banyak masalah menumpuknya. Begitupun Hika, ia yang sejak tadi pagi mengenakan jaket putih bersakunya tidak terlihat menggunakan jaket itu. Ryo merasa sangat heran, namun mereka asyik mengobrol.
“Hei Ryo! Kok kayaknya kamu kelihatan berbeda ya? Dari tadi diam saja! Ngomong dong!” celetuk Hika.
“Eh, ng-nggak apa-apa kok, Cuma heran aja!” jawab Ryo dengan nada yang datar.
“Heran kenapa?” Tanya Yuu penasaran dengan apa yang dikatakan Ryo.
“Kok kalian kelihatan berbeda dari biasanya?” tanya Ryo dengan gugup memperjelas masalahnya.
“berbeda apanya?” Tanya Hika penasaran karena masih bingung dengan yang dikatakan Ryo dari tadi.
“ngg-nggak apa-apa deh” jawab Ryo ragu-ragu.
Sejenak Handphone Ryo berbunyi dengan ringtone lagu klasik romatis yg membuat semuanya berubah ke semula dari yang Ryo lihat tadi. Tiba-tiba Aozaki terlihat mengenakan Headset yg terhubung dengan I-pod-nya, Erumo terlihat tersenyum kembali, Hika terlihat mengenakan jaket putih bersakunya, dan Yuu terlihat sedang mengunyah sebuah permen karet. Ryo masih merasa heran ada apa dengan lagu klasik dengan teman-temannya itu. Sejenak Ryo terdiam.
“Hei Ryo! Kok diam lagi?” Tanya Hika dengan ceria seperti tidak terjadi hal-hal misterius yang baru saja dialami Ryo.
“tadi Aozaki kok tumben melepas I-podnya?” Tanya Ryo heran.
“Apa? Dari tadi I-pod ku tidak ku lepaskan sama sekali!” jawab Aozaki mengelak.
“lalu Yuu juga tumben tidak makan permen karet?” Tanya Ryo lagi karena rasa penasaran yang terus menggejolak hati lelaki berambut hijau kebiruan ini.
“hmm kamu emang nggak lihat dari datang tadi aku ngunyah-ngunyah gini? Oohh kamu mau permen karetku ya? Nih aku bagi!” jawab Yuu sambil menawarkan permen karetnya yang sebenarnya sedari tadi ia kunyah tanpa henti.
“oh ngga Yuu, terimakasih.” sudahlah lupakan saja, katanya dalam hati.
Namun dalam hati Ryo masih merasa heran dengan sifat-sifat teman-temannya itu barusan.
***^^^***^^^***^^^***^^^
Sekolah pun usai. Bel pulang berbunyi Teng, Teng, Teng, itu membuat Erumo menjadi pendiam lagi dan seperti orang yang ditumpuk oleh banyak masalah. Memang Erumo Kurogaki ini memiliki sifat yang tidak mau menyerah dan selelu mempunyai cara mudah menyelesaikan masalah dan kalaupun ia bosan ia pasti akan selalu pergi ke ruang alat musik di sekolah dan memainkan lagu Canon Rock sendirian. Tapi kali ini tidak ia sama sekali pendiam. Dan saat mereka berdua hendak pulang Iruka-sensei memanggil Ryo dan diberikan kepada Ryo secarik kertas misterius yg entah apa bacaannya, namun Iruka-sensei berkata bahwa Ryo pasti akan dapat mengetahui isi secarik kertas ini saat Ryo memiliki rasa EDED yg besar, Ryo punya semua itu. Ryo tidak mengerti apa yg di katakana oleh gurunya, tapi ia meng-iya kan saja apa yang dikatakan gurunya.
Mereka berdua pun pulang. Kini Handphone Ryo kembali berdering dengan ringtone klasik romantisnya lagi, dan Erumo terlihat sedang bercakap-cakap dengan Ryo. Namun Ryo masih merasa heran apa bacaan dari secarik kertas ini, lalu ia memberitahukan hal ini kepada Erumo. Eruma pun menanggapi cerita Ryo dengan baik, dia berkata bahwa salah satu saudaranya pernah diberikan secarik kertas misterius juga, tapi entah kejadian yang sama atau bukan.
“Awaaasss Ryo!!!” teriak Erumo.
GUBRAK!!! “Aduh sakit!!” kata Ryo setelah tanpa sadar ia tertabrak tiang listrik karena berjalan terlalu pinggir.
TO BE CONTINUED …
Kalo kurang asik, komen ya ^^ semonga fict ku ini menarik ya ^^
butuh kripiknya ajah, #salah
Kicau burung terdengar merdu saat mentari menjelang menyinari seluruh bumi. Katsunoki Ryoutaro, anak yang tinggal di tengah kota Ragoonan yg sederhana tapi modern ini, hari ini masuk Regatora Gakuen setelah ia menghabiskan liburannya selama 2 minggu. Kata “REGATORA” diambil dari kata “Legatura” yang berarti ‘sambung sampai not selanjutnya’ dalam ilmu musik. Sesuai dengan namanya, sekolah ini adalah sekolah musik yang mana kelasnya terbagi menjadi 2, kelas Moderato dan Andante. Perbedaan antara kedua kelas tersebut ialah
pada sisitem pengajarannya. Pada kelas Moderato ini lebih dominan pada keceriaan musikalnya, seperti menghafal dengan bernyanyi dan sebagainya. Lain halnya dengan Andante yang lebih dominan pada materi umum. Ryo-kun adalah murid yang masuk dalam kelas Moderato.
Kriiiinnnggg, Kriiiinnnggg, Kriiiinnnggg jam beker Ryo menunjukkan pukul 06.00.
“Apa-apaan ini? Sekolahku kan masuk jam 08.00 pagi? Kenapa ini bunyi-nya sekarang?! Ini kan terlalu pagi!” gerutu-nya sesaat setelah ia melihat jam beiker-nya.
“Bibiiiiiii!!!!!!” teriaknya sesampainya di depan pintu kamarnya. Sejenak ia lupa bahwa…
“Astaga, pintunya kan belum aku buka… mana bisa bibi mendengar aku teriak!” katanya dalam hati
Brak, Brak, Brak, “Non!!!, eh salah. Deeennnn!!!!” panggil bibi-san dari luar kamar Ryo.
Ckiiiiiitttt…..
“Apa bi-…” sebelum Ryo-kun menjawab seluruhnya, bibi-san masih tetap berteriak walaupun pintunya sudah dibuka.
“deeennnn!!!!” teriaknya tanpa sadar kalau pintu kamar Ryo sudah di buka.
“aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!! Apa sih bi-san? Ngga usah teriak bisa kan? Udah gitu panggil aku den lagi! Memangnya namaku ini Dendeng?!” teriaknya balik sambil memarahi bibi-san
“m-maaf Ryo-kun, lagi pula kan tadi Ryo sendiri juga teriak dari kamarnya Ryo-kun?” Tanya bibi-san curiga sambil menatap Ryo-kun dengan tatapan yang dingin.
“hah? Kok bibi-san bisa tau?” katanya dalam hati “ng… hehe iya bi-san”
“Dah, sekerang liat noh! Udah jam berapa ini? Jam 07.45! kan kamu masuk jam 08.00? sudah mandi sana! Nanti kamu telat, lagi!” Omel bibi-san kepada Ryo-kun.
Bibi-san, yg bernama lengkap Kusuma Youbi dan sering dipanggil Bibi ini memang sangat hobi marah-marah dengan Ryo-kun. Mereka berdua ini sudah seperti kakak adik yang hampir tidak pernah akur. Yaa, walapun mereka kadang akur. Jika Bibi-san salah selalu saja ia melontarkan kesalahannya kepada orang yang menyalahkannya. Tak heran jika ia marah-marah kepada Ryo-kun karena Ryo bangun kesiangan padahal bi-san sendiri juga bangun kesiangan walaupun tidak disalahkan oleh Ryo-kun.
“Apa?! Sudah jam segini? Kok Bi-san tidak membangunkan aku sih?! Kan aku juga nggak tau kalo sudah jam segini! Lagipula jamku ini lupa aku set semalam!” Omel balik Ryo-kun kepada Bi-san
“Udah mandiiii!!!” perintah Bi-san mengalihkan pembicaraan karena kesal.
“Iya-iya!, Bawel” jawabnya dalam hati sambil meninggalkan Bi-san.
“Eiiiittt! Itu dapur! Emangnya mau mandi pake minyak tanah? Hadoh, haha. Kamar mandi di sana!” kata Bibi-san sambil menunjuk ke arah kamar mandi dengan senyuman yg manis.
“Ternyata orang yang suka marah-marah seperti bi-san ini bisa senyum juga ya? Hehe” kata penulis.
“Wah iya, aku lupa” jawab Ryo-kun.
5 menit setelah mandi***^^^***
“Ryo!! Ayo sarapan dulu, nak!” teriak Bibi-san dari ruang makan
“Iya-iya!” jawab Ryo-kun, dan tak lama kemudian… “Aku berangkat!”
“lho kok cepet banget?!” Tanya Bibi-san heran dalam hati sebelum ia mengetahui bahwa roti yang dipengangya tadi menghilang dari tangannya. “Hei! Di mana rotiku?! Ryo-kuuuunnnn!!!!” teriaknya kesal.
Ryo-kun berlari sangat kencang, sangking kencangnya di lupa bahwa sekolahnya sudah terlewat jauh dari rumahnya. Sebenarnya Rumah Ryo dengan Sekolah Regatora tidak jauh, bila dihitung dengan langkah kira-kira jaraknya hanya 100 meter dari rumahnya. Cuma entah, mungkin karena takut terlambat ia berlari.
Setelah ia sampai di sekolahnya, ternyata pas sekali ia mengijakkan kaki di sekolahnya langsung terdengar bel tanda masuk berbunyi, “Teng, teng, teng” beruntung ia tidak terlambat, tetapi hamper terlambat.
Karena ini adalah hari pertama ia masuk kembali, ada pembagian kelas Moderato. Ryo-kun masuk ke dalam ruang kelas M.XA yang berarti Moderato kelas 10-A. namun Ryo tidak menyadari kalau kelasnya itu sudah tepat berada di depannya.
“Di mana kelasku?” tanyanya dalam hati.
“Hei Ryo-kun!” Teriak Hika dari belakang Ryo.
“Ah! Kau ini Hika, menngagetkanku saja!”
“kok belum masuk?” tanya Hika
“Iya nih, kelasku di mana ya? Kamu tau gak Hika?” Tanya balik Ryo kebingungan.
“hmmm itu! Ryo sekelas sama Hika! Memang tulisan sebesar itu nggak kelihatan ya Ryo?” jawab Hika polos.
“Ya ampun! Kok tulisan sebesar itu bisa aku tidak melihatnya ya?” sambung Ryo kebingungan.
“sudahlah! Ayo masuk!” ajak Hika.
Setelah masuk, Ryo merasa heran dengan cara berpakaian Hika. Ryo merasa saat memasuki ruang kelas karena Hika tetap menggunakan Jaket berwarna putihnya saat sudah masuk ke dalam kelas yg memang di sana terasa agak pengap.
Hika, yang bernama lengkap Hikate Vargance ini memang sering mengenakan jaket putih polos dengan saku dimanapun ia berada. Hika memiliki sifat yang ceria, agak aneh, agak pendiam, dan kadang-kadang polos seperti orang bodoh suka linglung yang menyebabkan korban. Mungkin disebut agak aneh karena salah satu hobinya adalah menyusun batu-batu hingga tinggi saat depresi, dan menyanyi saat kelas sedang kosong. Tapi hebatnya, ia dapat memainkan alat musik berupa harmonica dan piano. Tak heran jika ia sangat hobi bermain harmonica.
“ngg.. Hika! Hika!, banyak murid baru ya di sini?” Tanya Ryo sama Hika.
“nggak kok! Kamu aja yang lupa sama muka-muka ini! Mereka mungkin ada perubahan selama liburan jadi rada-rada berubah kayak power ranger gitu, haha! Ups!” jawab Hika dengan ceria
“haha Hika bisa saja. Oh iya ya?! Ini kan masih teman-temanku yang waktu itu ya!” kata Ryo dengan wajah yang menunjukkan rasa terkejutnya karena ia baru sadar bahwa itu semua masih teman-temannya yang dulu.
“waktu kapan?” Tanya Hika bermaksud meledek.
“waktu… ah lupakan! Dah aku mau duduk aja!” jawab Ryo agak kesal.
“hmm, yasudah” kata Hika pasrah karena gagal menerima jawaban dari Ryo.
2 jam setelah pelajaran***^^^***
Teng, Teng, Teng
Bel jam istirahat pun berbunyi. Katsunoki Ryoutaro, Aozaki Kensuke, Erumo Kurogaki, Hikate Vargance, dan Yuu Hazelie menghabiskan waktu istirahatnya di cafeteria sekolah. Mereka selalu mengobrol apa saja yag bisa mereka jadikan sebagai bahan omongan (bukan gosip lho ya!). Ryo masih heran dengan sifat teman-temannya yang asing di mata Ryo. Aozaki-san yang biasanya suka membawa I-pod yg selalu setia menggantung di lehernya kemanapun ia pergi, kini tidak membawanya sama sekali. Yuu-chan yg biasanya selalu mengunyah permen karet saat di cafeteria, sekarang tidak lagi mengunyahnya bahkan ia tidak terlihat membeli atau membawa permen karet satu pun. Erumo-san yang biasanya selelu ceria dan selalu mempunyai cara mudah untuk menyelesaikan masalah kini ia terlihat seperti banyak masalah menumpuknya. Begitupun Hika, ia yang sejak tadi pagi mengenakan jaket putih bersakunya tidak terlihat menggunakan jaket itu. Ryo merasa sangat heran, namun mereka asyik mengobrol.
“Hei Ryo! Kok kayaknya kamu kelihatan berbeda ya? Dari tadi diam saja! Ngomong dong!” celetuk Hika.
“Eh, ng-nggak apa-apa kok, Cuma heran aja!” jawab Ryo dengan nada yang datar.
“Heran kenapa?” Tanya Yuu penasaran dengan apa yang dikatakan Ryo.
“Kok kalian kelihatan berbeda dari biasanya?” tanya Ryo dengan gugup memperjelas masalahnya.
“berbeda apanya?” Tanya Hika penasaran karena masih bingung dengan yang dikatakan Ryo dari tadi.
“ngg-nggak apa-apa deh” jawab Ryo ragu-ragu.
Sejenak Handphone Ryo berbunyi dengan ringtone lagu klasik romatis yg membuat semuanya berubah ke semula dari yang Ryo lihat tadi. Tiba-tiba Aozaki terlihat mengenakan Headset yg terhubung dengan I-pod-nya, Erumo terlihat tersenyum kembali, Hika terlihat mengenakan jaket putih bersakunya, dan Yuu terlihat sedang mengunyah sebuah permen karet. Ryo masih merasa heran ada apa dengan lagu klasik dengan teman-temannya itu. Sejenak Ryo terdiam.
“Hei Ryo! Kok diam lagi?” Tanya Hika dengan ceria seperti tidak terjadi hal-hal misterius yang baru saja dialami Ryo.
“tadi Aozaki kok tumben melepas I-podnya?” Tanya Ryo heran.
“Apa? Dari tadi I-pod ku tidak ku lepaskan sama sekali!” jawab Aozaki mengelak.
“lalu Yuu juga tumben tidak makan permen karet?” Tanya Ryo lagi karena rasa penasaran yang terus menggejolak hati lelaki berambut hijau kebiruan ini.
“hmm kamu emang nggak lihat dari datang tadi aku ngunyah-ngunyah gini? Oohh kamu mau permen karetku ya? Nih aku bagi!” jawab Yuu sambil menawarkan permen karetnya yang sebenarnya sedari tadi ia kunyah tanpa henti.
“oh ngga Yuu, terimakasih.” sudahlah lupakan saja, katanya dalam hati.
Namun dalam hati Ryo masih merasa heran dengan sifat-sifat teman-temannya itu barusan.
***^^^***^^^***^^^***^^^
Sekolah pun usai. Bel pulang berbunyi Teng, Teng, Teng, itu membuat Erumo menjadi pendiam lagi dan seperti orang yang ditumpuk oleh banyak masalah. Memang Erumo Kurogaki ini memiliki sifat yang tidak mau menyerah dan selelu mempunyai cara mudah menyelesaikan masalah dan kalaupun ia bosan ia pasti akan selalu pergi ke ruang alat musik di sekolah dan memainkan lagu Canon Rock sendirian. Tapi kali ini tidak ia sama sekali pendiam. Dan saat mereka berdua hendak pulang Iruka-sensei memanggil Ryo dan diberikan kepada Ryo secarik kertas misterius yg entah apa bacaannya, namun Iruka-sensei berkata bahwa Ryo pasti akan dapat mengetahui isi secarik kertas ini saat Ryo memiliki rasa EDED yg besar, Ryo punya semua itu. Ryo tidak mengerti apa yg di katakana oleh gurunya, tapi ia meng-iya kan saja apa yang dikatakan gurunya.
Mereka berdua pun pulang. Kini Handphone Ryo kembali berdering dengan ringtone klasik romantisnya lagi, dan Erumo terlihat sedang bercakap-cakap dengan Ryo. Namun Ryo masih merasa heran apa bacaan dari secarik kertas ini, lalu ia memberitahukan hal ini kepada Erumo. Eruma pun menanggapi cerita Ryo dengan baik, dia berkata bahwa salah satu saudaranya pernah diberikan secarik kertas misterius juga, tapi entah kejadian yang sama atau bukan.
“Awaaasss Ryo!!!” teriak Erumo.
GUBRAK!!! “Aduh sakit!!” kata Ryo setelah tanpa sadar ia tertabrak tiang listrik karena berjalan terlalu pinggir.
TO BE CONTINUED …
Kalo kurang asik, komen ya ^^ semonga fict ku ini menarik ya ^^
butuh kripiknya ajah, #salah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar